menjadi tahu
Kenangan Terindah
Bila saja ada yang ingin
Ada dihati mengulik tanya
Akan kujadikan menjadi apa
Segala yang telah kau berikan
Karena tiada cukup genap dan utuhnya
Mengerti akan semua jawaban
Bagaimana kegamblangan telah bersuara
Kupahami semua yang telah kau berikan
Adalah bagian terindah dari sebuah uluran tangan
Ada kenangan terindah didalamnya yang layak disebut sebagai kenangan
Ia tidak begitu saja untuk dibiarkan
Ia tidak dipandang sebatas seikat pantun belaka
Seikat hasil yang kau berikan untukku lalu kubiarkan tergeletak dipematang hingga hard dan malam berganti begitu saja
Tidak pula kubiarkan kenangan terindah darimu dihabisi tikus-tikus dan burung-burung yang kelaparan
Dengan tetap utuh ikatan itu ingin kubawa kepadanya mampu menumbuk dan menumbuhkan pengertiannya dengan cara memandang dan lakunya walau sejauh apa ketebalan penghalang pandangannya..
Kepadanya ada berserah diri ini pada daya yang dimikinya mengubah bentuknya hingga sampai kepulan asap dapur menghantar perjalanannya menuju ruang sesaji...
Tempat Sang Juragan
Jangan dan jangan lagi
Kujumpai sudah kesekian kali
Ketika harus melalui lintasan ini
Begitu banyak larangankah di sini
Ragu pastilah menyelimuti
Tidak semata oleh hawa dingin
Ditambah semilirnya angin
Menembus hingga ke dalamnya tulang
Namun tanda itu seolah jelas melarang
Untuk siapa sebenarnya itu dibuat
Kutanya hanya di dalam hati saja
Untuk semua yang melintas saja
Atau juga buat sang tuan yang terkenal
Dan dinamai sebagai seorang juragan
Agar dia sang empunya jadi kerasan
Bertanya namun tidak kunjung dijawab
Terang saja walau tidak cukup benderang
Berandai disana ada yang dapat ditanya
Tentu sejadinya tidaklah akan demikian
Barang ampuh rasanya dalam dan bisa jadi berada jauh di sana. Namun praduga itu tetap saja hanya praduga, hanya langkah kecil kulewati saja setiap jengkal pandang semua tempat yang memang harus menjadi lintasan, termasuk mereka semua yang bertujuan sama.
Jauh Dari Yang Utama
Mengertikah duhai engkau yang pernah melamun
Tiada mengatakan inginmu jadi apa di sana
Tiada sempat ada urai yang membukti
Namun membayang jelas mimpimu bagai lukisan
Jadi bagian elemen yang usang di setiap mata pendatang
Dera musim silih berganti meninggalkan jejak-jejak yang semakin dalam
Disanalah sedikit kisah pernah tercurah, menggigil disela terhimpitnya kisah
Tubuh sang suhu terbalut kelebatan mulai dari lumut, rambatan daun hingga ilalang yang meninggi menutupi setiap sisi pandang
Tertatih langkah itu jauh dari keberanian yang membuta dan juga pernah menjauh dari terik yang pernah mengeraskan dan menajamkan tanah -tanah serpihannya meruncing kering.....
Tiga pasang kaki yang datang begitu saja tanpa disambut kecuali beriring gerimis yang kian melebat
Terpisah dari nyanyian yang muncul dalam setiap rimbunan pepohonan ritme atap menerima semua itu diteruskan hingga berjatuhan dalam barisan lubang-lubang kecil yang memunculkan kerikil pada setiap celah rintik kejatuhan pada genangan kecil sebelum ia lalu mengalir menjauh ....
Terpisah dari tiang-tiang penyangga utama ia adalah rancang bangun yang dibuat dekat dan menyatu kendati jauh dari peraduan sang empunya konon membaringkan tubuhnya juga terpisah dengan jarak yang lebih jauh bersekat lorong-lorong tempat menghantar yang terhormat baginya meneguk salam dan jamuan.... menhadap puing-puing pelengkap terpajang panjang dipenuhi selarik kisah...
Sejak Perjumpaan
sebutlah sebagai kebetulan
Hanya Sedikit Yang Tahu
Harusnya aku yang disana
Ujar kawan
Sekedar menjelaskan
Mengapa semua itu
Dilalui hari itu
.....
Begini ya.
Lihat semuanya...!
Dan semuanya lalu melihat
Ok
Begini cara makannya.
Kulit pisang itu lalu dikupasnya
Sisi depan
Sisi kanan dan kiri
Lalu sisi yang terakhir
Lalu ia menggigit dan mengunyahnya....
Semua menyambut dengan tepuk tangan meriah.
Sambil menoleh kekiri dan ke kanan
Seraya berbisik , "Semua juga tahu!".
Tidak terlalu penting
Berulang kali, kepada semua orang yang sudah tahu.
Masihkah hal demikian
Kita terus menerus jumpai?
Mungkinkah ada yang keliru mengenali hal demikian?
Janji Musim Hujan
hhmmmm sebentar